Emak-Emak Adalah Ibu Bangsa di Era Digital


Emak merupakan kata ganti ibu yang biasa digunakan oleh orang jawa. Istilah emak-emak cukup populer di kaum milenial saat ini. Sebutan lain yang bernada lebih nasionalis dan berwibawa juga mengiringi istilah emak-emak ini, yaitu ibu bangsa. Istilah-istilah tersebut secara prinsip mengarah ke hal yang sama yaitu ibu. Ibu merupakan pilar penting dalam bangunan sebuah keluarga. Dibandingkan ayah, ibu lah yang lebih banyak memberikan asih, asuh, dan asah kepada anak. Hubungan dengan ibu, seringkali menjadi landasan seorang anak bersikap terhadap orang lain, benda, dan kehidupan secara umum. Maka peran ibu dalam membangun akhlak seorang anak merupakan sebuah hal yang penting. Termasuk emak-emak Indonesia untuk menjadi ibu bangsa, ibu dari seluruh anak-anak generasi penerus bangsa Indonesia pada zaman digital.
Indonesia merupakan negara di dunia yang peringkat ke-6 dalam penggunaan media digital atau internet (Kominfo, 2018).  Dengan total populasi sebanyak 262 juta, ada sekitar 50 persen orang atau 143 juta penduduk Indonesia sudah menggunakan Internet, tidak terkecuali para remaja dan pemuda era milenial saat ini. Tercatat muda-mudi milenial Tanah Air berusia 19 – 34 tahun menempati setengah dari seluruh pengguna internet, yaitu sebanyak 49,52 persen atau 70,8 juta pemuda. Kemudian disusul anak remaja usia 13 – 18 tahun dengan porsi 16,68 persen atau 23,8 juta remaja (Kompas, 2018).  Kominfo mencatat dalam penelitiannya bahwa ada tiga motivasi utama kaum milenial mengakses internet yaitu untuk mencari informasi, terhubung dengan teman, dan hiburan. Pencarian informasi biasanya didrorong oleh tugas-tugas sekolah, sedangkan penggunaan media sosial dan hiburan atas dorongan pribadi. Dengan motivasi tersebut, bisa dipastikan akan terus meningkat pengguna internet di kalangan anak remaja milenial ini. Bahkan di sekitar lingkungan kita sendiri, kita bisa melihat anak-anak usia balita saja sudah jago memainkan gadget, walau hanya untuk menonton video di YouTube atau bermain games.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut terjadi karena orang-orang tua yang memfasilitasi anak-anaknya. Orang tua semakin menyadari bahwa banyak manfaat media digital untuk mendukung pembelajaran dan pendidikan anak. Namun, tidak sedikit dari pihak orang tua yang ketinggalan dari anak-anaknya dalam menguasai dan menggunakan media digital ini. Tidak banyak pula dari mereka yang mengawasi anak-anak mereka ketika mengakses internet serta sedikit yang menjadi ‘teman’ anaknya pada jejaring sosial. Akibatnya, sejumlah besar anak dan remaja telah terpapar dengan hal-hal yang negatif, seperti konten pornografi, terutama ketika muncul secara tidak sengaja atau muncul dalam bentuk iklan yang bernuansa vulgar. Karena penasaran, akhirnya mereka mengaksesnya. Tidak hanya itu, semakin maraknya hoaks dan ujaran kebencian juga mencekoki mereka. Kata-kata kasar, menghujat, merendahkan, dan selainnya sering terjumpai dalam kolom-kolom komentar media sosial. Lambat taun apabila anak-anak terus menerus terpapar oleh itu semua tanpa adanya filter positif, akan mengganggu kesehatan akhlaknya. Anak akan menyimpang tumbuh kembangnya, menurun sopan santunnya, dan mengganggap hal yang buruk itu benar untuk dilakukan karena dianggap sebuah hal yang biasa lantaran tidak ada yang mendampingi pergaulan mereka dalam media digital.
Lantas, dengan realitas seperti itu, bagaimana sebenarnya peran seorang ibu terhadap tumbuh kembang seorang anak? Apa sih yang perlu para emak lakukan agar anak tidak terpengaruh oleh hal tersebut, akan tetapi sebaliknya, bisa memberikan pengaruh positif dan bermanfaat bagi bangsa di era digital sekarang?

Peran Ibu
Ibu merupakan sosok sentral dalam tahap perkembangan anak pada sebuah keluarga. Ibu adalah orang pertama yang mengajak anak berkomunikasi sehingga membuat anak mengerti cara berinteraksi dengan orang lain. Orang yang merawat anak-anaknya, menyediakan makanan untuk seluruh anggota keluarganya, dan terkadang bekerja untuk menambah pendapatan keluarga, tidak lain dan tidak bukan itu adalah ibu kita.
Setiap anak memiliki kebutuhan dasar untuk bekal tumbuh kembangnya. Dalam pemenuhannya, ibu memilki tiga peran dasar, yaitu peran asih, asuh dan asah. Peran asih adalah pemenuhan kebutuhan fisik meliputi memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar terjaga kesehatannya sehingga mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya. Peran asuh adalah pemenuhan kebutuhan emosi, meliputi memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada keluarga sehingga diharapkan mereka menjadi anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. Dan peran asah adalah pemenuhan kebutuhan mental anak meliputi memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga menjadi anak yang mandiri dalam mempersiapkan masa depan (Anime, 2011). 
Peran asih, asuh, dan asah ini akan selalu melekat dalam diri seorang ibu hingga anaknya mampu secara mandiri merawat dirinya sendiri untuk mencapai masa depannya. Peran untuk memperhatikan dan menjaga anak agar tetap sehat secara fisik maupun psikis/emosi, memberikannya bimbingan dan pendidikan agar dia bisa mandiri dan mengatasi hal-hal yang bisa menghambat dalam mencapai masa depannya, semua ini perlu ibu berikan untuk membentuk kepribadian anaknya. Mungkin kita secara tidak sadar, ada bagian dari sikap atau kepribadian diri kita yang terbentuk karena apa yang telah diberikan oleh ibu kita.
Apabila anak tidak merasa ada perhatian dari orang tuanya (terutama ibu), secara tidak langsung mereka akan mencari figure di luar rumah/lingkungan keluarga, seperti teman sebayanya, masyarakat di sekelilingnya, dan bahkan TV, serta internet juga turut besar peranannya dalam pembentukan kepribadiannya. Jika yang dikonsumsi adalah hal-hal yang negatif, tentu ini memiliki dampak yang kurang baik bagi perkembangan anak itu sendiri. Apabila peran ibu tidak berhasil maka anak akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Dan apabila anak mengalami keterlambatan atau penyimpangan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, maka akan sulit mendeteksi dan memperbaikinya.

Penyebab Tidak Berjalannya Peran Ibu 
Ada beberapa penyebab kurangnya peran ibu terhadap tumbuh kembang anaknya. Yang pertama, tidak adanya waktu untuk anak bagi ibu karir. Kita ketahui bahwa pemberian batasan konsep positif pada remaja merupakan peran penting orang tua. Walaupun teman sebaya membantu tugas perkembangannya, namun remaja perlu ditanamkan konsep filter terhadap informasi eksternal. Konsep itu relatif sempurna ketika orangtua yang mendidikkannya. Erickson (Santrock, 2010) menyatakan kesensitifan remaja membutuhkan bimbingan dalam kehidupannya untuk menemukan jati dirinya. Kebutuhan dan pengajaran utama akan didapatkan dalam keluarga. Intensitas pertemuan yang tinggi dengan keluarga dipegang oleh ibu. Ibu yang meniti karir, akan kekurangan intensitas pertemuan dengan anaknya dan tentunya akan memiliki dampak pada perkembangan anak.
Yang kedua, ketidakmauan orang tua untuk belajar media digital. Sudah tidak aneh lagi apabila anak zaman now lebih pintar dari orang tuanya. Hal tersebut dikarenakan mereka lahir di era yang serba digital. Apapun yang ingin mereka ketahui bisa didapatkan hanya tinggal menggeser jempol di layar smartphone-nya. Apalagi sejak kecil sudah disuguhi barang elektronik tersebut. Sedangkan orang tua tidak dibesarkan bersama media-media digital sehingga cenderung mengacuhkan karena boleh jadi tidak terbiasa. Apalagi perkembangan teknologi yang kian cepat, akhirnya membuat orang tua merasa jauh tertinggal. Maka dibandingkan mempelajarinya, mereka lebih memilih untuk tetap dalam kebiasaannya atau tidak mau mengikutinya karena dipandang tidak lebih bermanfaat daripada pekerjaan-pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Kurangnya minat orang tua ini, terutama ibu untuk menyesuaikan diri dengan apa yang anak lakukan, sama halnya membiarkan mereka bebas berkembang dan bergaul tanpa batasan dan sepengetahuannya.

Alternatif Aksi
Lantas, apa yang perlu para emak lakukan agar anak-anaknya tetap dalam perkembangan yang positif? Secara prinsip yang perlu dilakukan ialah mengarahkan anak-anaknya. Bukan akhirnya melarang bermain gadget atau internet. Seorang ilmuwan pernah menyatakan bahwa adanya suatu jalan itu membuat orang kecelakaan. Namun untuk mengatasi kecelakaan, bukan berarti menghilangkan jalannya, akan tetapi memberikan rambu-rambu lalu lintas dan pengawasnya yaitu polisi. Sama halnya dengan internet. Ibu tidak bisa melarang anak-anaknya bermain internet, mengingat manfaat yang cukup besar dari sana. Akan tetapi, ibu bisa dan sangat strategis untuk menanamkan rambu-rambu untuk anak-anaknya agar bisa menjadi filter mandiri bagi dirinya terhadap hal-hal yang bisa menghambat atau menyesatkan tumbuh kembangnya.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar bisa mengarahkan anak. Yang pertama, Ibu harus menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak. Seringkali ibu lupa terhadap anak saking banyaknya tugas rumah yang harus dilakukan atau adanya tuntutan pekerjaan bagi ibu karir. Namun, semuanya akan teratasi apabila ibu melakukan manajemen waktu atau pengaturan waktu yang tepat. Maka bisa sempatkan waktu sekitar 1 atau 2 jam dalam agenda sehari-harinya, atau di waktu-waktu santai keluarga, atau membuat liburan bersama anak.
Yang kedua, Ibu harus berusaha membangun kedekatan dengan anak. Anak remaja yang mencari figure di luar keluarga karena keluarga tidak terasa dekat dengan dia. Kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan emosional. Ibu dengan ketrampilannya perlu menjadi ‘teman’ bagi anaknya. Caranya dengan mau mendengarkan curhatan seorang anak, menjadi teman jejaring sosialnya, kalau tidak tahu tentang media digital, tidak malu untuk minta diajarkan anak dan belajar, layaknaya seorang teman yang terkadang tidak selalu pintar juga.
Yang ketiga, Ibu harus berusaha selalu menjadi sosok yang patut diteladani oleh anak. Emak-emak di era milenial ini selalu digambarkan dengan ibu-ibu yang suka melanggar aturan, sok tahu, bahkan bebas berkata dan berbuat apapun sekalipun itu kasar. Kesan ini yang perlu dihilangkan agar anak pun mau dekat dengan ibunya. Maka ibu perlu menerapkan atau mencontohkan apa yang dituturkan kepada anak, mau belajar, dan selalu memberikan ketegasan dengan tutur kata yang tetap teratur dan santun.

Penutup
Memang tidak mudah berperan menjadi seorang ibu, namun itu jauh lebih mudah daripada harus mengatasi anak yang mengalami penyimpangan dalam tumbuh kembangnya. Setiap anak merupakan bagian dari generasi yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa. Pemberian bimbingan dan didikan yang tepat kepada anak berarti ikut berkontribusi dalam usaha membangun bangsa. Maka mari menjadi seorang ibu bangsa yaitu yang selalu mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya demi kebahagian masa depan dirinya dan bangsa ini.



Daftar Pustaka
Werdiningsih, Ayu T. A. dan Kili Astarani. “Peran Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak
terhadap Perkembangan Anak Usia Prasekolah.” Jurnal STIKES 05. No.1 (Juli 2012). 82-98
Dewi, Eva M. P. dan Basti. “Pengasuhan Ibu Berkarir dan Internalisasi Nilai Karir pada Remaja.” Jurnal
Ilmiah Psikologi Terapan 03. No.1 (Januari 2015). 165-183
Kominfo, “Riset Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja Dalam Menggunakan
Internet”. Januari 2, 2018.
Kompas. “Berapa Jumlah Pengguna Internet Indonesia”. Januari 2, 2018.
Kompas.  “Hasil Survei Pemakaian Internet Remaja Indonesia”. Januari 2, 2018


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacaan Sholat Dan Artinya

Cerita Sakit Saya

K3LH Dalam TIK