Peran Besar Membangun Bangsa Dimiliki Para Pemuda
Bagi orang awam,
melihat tanggal 28 Oktober seperti halnya melihat tanggal-tanggal biasa yang
tidak bermakna apapun. Namun, bagi kaum intelektual muda seperti kita, tanggal
28 Oktober harusnya mengingatkan kita pada susah payahnya perjuangan para
pemuda dalam memerdekaan bangsa melalui “sumpah pemuda”, 28 Oktober 1928 silam.
Berkat peran mereka, bangsa Indonesia bisa bersatu merebut kemerdekaan dan
memulai pembangunan bangsa ini. Itulah peran pemuda tempo dulu dalam proses
awal pembangunan bangsa ini. Bagaimana dengan kita, pemuda muslim masa kini?
Apa peran pemuda muslim masa kini dalam pembangunan bangsa saat ini? Untuk
itulah, melalui tulisan ini, penulis hendak mengenalkan peran pemuda muslim
dalam membangun bangsa saat ini.
Yang Muda Yang Berkarya
Apabila
dicermati, “sumpah pemuda” merupakan sebuah karya para pemuda masa lalu untuk
mempersatukan bangsa ini. Maka sejatinya, peran pemuda dalam pembangunan bangsa
adalah melalui karya-karya yang mereka ciptakan. Jika diamati dari
pengertiannya, pemuda merupakan seorang manusia berusia antara 16 – 30 tahun
yang secara fisik dan jiwa mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara
signifikan menuju tingkat kematangan berdasarkan apa yang dilakukan dan
pengetahuan yang didapat pada masa usia tersebut. Maka dalam masa pertumbuhan
dan perkembangannya, pemuda perlu memperhatikan apa yang dilakukan dan
pengetahuan apa yang seharusnya didapatkan untuk bisa memberikan karya sebagai
wujud perannya dalam peembangunan bangsa. Sehingga pemuda yang berperan dalam
pembangunan bangsa, tak ubahnya seperti pemuda yang berkarya.
Pemuda yang
berkaya memiliki semangat yang sangat kuat untuk selalu mengejar apa yang
hendak ia kuasai atau dapat. Dia tidak akan menyerah sampai apa yang menjadi
tujuannya benar-benar tercapai. Dia akan sangat menikmati terhadap apa yang
dikerjakannya dalam rangka menciptakan karyanya. Karena dia tahu bahwa setiap
proses yang ia lalui semata-mata untuk pencapaian karyanya. Dia akan merasa
senang jika ia berhasil menciptakan sebuah karya. Bahkan dia aka merasakan
kebermaknaan apabila karyanya bisa diimplementasikan dan bermanfaat bagi orang
banyak. Dalam belajarnya, dia tidak akan menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan
pikirannya untuk hal-hal yang tidak diperlukan dalam pencapaian karyanya.
Meskipun setiap
pemuda sama-sama memiliki semangat kuat dalam berperan membangun bangsa, tetapi
bentuk peran yang diberikan oleh pemuda di setiap masa memiliki perbedaan. Hal
ini dikarenakan masalah yang dihadapi oleh pemuda masa lalu berbeda dengan
pemuda masa sekarang.
Masalah yang
dihadapi pemuda masa lalu dalam membangun bangsa merupakan imbas dari
penjajahan yang terjadi, seperti: kebodohan, ketertindasan, dan keterpurukan,
baik secara fisik maupun psikis, terhadap diri sendiri, keluarga, sampai
masyarakat bangsa Indonesia. Berbeda dengan masa lalu, masalah yang dihadapi
pemuda masa kini dalam membangun bangsa adalah banyaknya kemiskinan masyarakat
meski sudah merdeka; dekadensi moral; penyimpangan pemikiran yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai pancasila umumnya dan Islam pada khususnya seperti:
liberalisme, materialisme, dan hedonisme; dan terkikisnya kecintaan terhadap
bangsa Indonesia yang dahulu sudah susah payah diperjuangkan.
Masalah-masalah
tersebut berpengaruh pada bentuk perjuangan/peran yang dilakukan. Bentuk
perjuangan para pemuda masa lalu sebagai wujud perannya dalam proses membangun
bangsa adalah melalui jalan-jalan perlawanan fisik seperti aktif dalam
peperangan dan pemberontakan melawan para penjajah; dan juga mengemukakan
konsep-konsep perubahan seperti “manifesto politik” di tahun 1925 dan “sumpah
pemuda” di tahun 1928 sebagai jalur nonfisiknya. Karena masyarakat tidak akan
menikmati nyamannya pendidikan dan sejahteranya kehidupan jika masih dalam
keadaan terjajah. Sedangkan dengan masalah yang dihadapi bangsa saat ini, maka bentuk
perjuangan/peran pemuda saat ini yaitu dengan aktif melakukan aksi-aksi dalam
menyelesaikan permasalahan di masyarakat, baik secara langsung misalnya
melakukan aksi sosial atau pendidikan ke masyarakat untuk meningkatkan
kesejahteraan dan intelegensi mereka, ataupun secara tidak langsung seperti
melalui karya-karya sastra atau seni yang bisa membangkitkan nilai-nilai luhur
bangsa Indonesia. Jika belum mampu melakukan itu semua, maka proses
pembelajaran di lembaga pendidikan dalam rangka mengembangkan keahlian dan
menambah wawasan untuk pembangunan bangsa, juga merupakan sebuah bentuk peran.
Sehingga kelak bisa membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Soekarno pernah
berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya.
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Melalui pidatonya
tersebut, Soekarno meyakinkan bahwa pemuda memiliki potensi yang sangat besar
untuk melakukan perubahan dan meneruskan perjuangan bangsa. Dalam sejarahnya
pun, tercatat bahwa pemuda memiliki peran besar dalam proses pembangunan bangsa
ini, seperti yang mempelopori lahirnya “sumpah pemuda”. Tokoh-tokoh muda di
balik sumpah pemuda ini diantaranya: Soenario(26), Johanes Leimena(23),
Soegondo(23), M. Yamin(25), Amir Sjariffoeddin(21), W.R. Soepratman(25), M.
Roem(20), dan banyak lagi. Tanpa perjuangan mereka, mungkin tidak akan pernah
terjadi persatuan bangsa yang pada akhirnya melahirkan tokoh-tokoh pahlawan
untuk menggerakan seluruh masyarakat nusantara dalam perebutan kemerdekaan
bangsa. Fakta inilah yang menjadi bukti bahwa pemuda memiliki potensi yang
sangat besar untuk berperan menjadi tokoh-tokoh penting pembangunan bangsa saat
ini.
Di masa sekarang,
ada seseorang pemuda muslim yang bisa menjadi teladan peran dalam membangun
bangsa. Dia peduli dengan keadaan bangsanya yang pada akhirnya membuat dia
mengambil peran dalam pembangunan bangsa, terutama dalam menangani masalah
kemiskinan dan kesehatan di negeri ini. Di masa kuliahnya, dia melihat fenomena
lingkungan bangsanya sendiri yang menyakiti hati dan mengganggu pikirannya.
Fenomena itu yakni banyak orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan,
tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, bahkan ada yang sampai
meninggal gara-gara tidak kuat membiayai pengobatan. Hal itulah yang membuatnya
tergerak untuk benar-benar memanfaatkan masa mudanya dengan terus mengasah potensinya
agar bisa memberikan pertolongan terbaik kepada masyarakat. Dia sadar betul
bahwa masa muda adalah masa yang paling penting dan tepat untuk membentuk diri
sesuai dengan apa yang diharapkan di masa depan. Alhasil, di usia 24 tahun, dia
mendapat penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability
Entrepreneurship First Winner 2014 di Inggris dari Pangeran Charles. Tak
hanya itu, dia juga disebut sebagai tokoh perubahan 2014 versi koran Republika
dan sejajar dengan mantan Ketua KPK Abraham Samad dan Wapres Jusuf Kalla.
Sekarang di usianya yang menginjak 28 tahun, melalui klinik asuransi sampahnya,
dia terus aktif berinovasi dalam membangun bangsa ini untuk memberikan
pertolongan kesehatan terbaik bagi masyarakat yang kurang mampu. Pemuda muslim ini
adalah dr. Gamal Albinsaid.
Dari fenomena dr.
Gamal Albinsaid ini dan pengalaman penulis senidiri, penulis menemukan
langkah-langkah bagi pemuda muslim untuk berperan dalam membangun bangsa.
Langkah-langkah tersebut diantaranya:
1.
Pemuda muslim harus menghayati
masalah yang sekarang dihadapi negeri ini. Penghayatan ini dilakukan bertujuan
untuk menumbuhkan kesadaran para pemuda atas masalah yang tengah terjadi saat
ini. Jika tidak menghayati masalahnya, niscaya pemuda tidak akan pernah sadar
bahwa dia sedang berada di tengah masyarakat yang membutuhkan perbaikan.
Bukankah perintah Allah yang pertama kali turun memerintahkan Rasulullah untuk
membaca keadaan masyarakatnya?(Al-Alaq: 1 – 5). Bukankah itu merupakan bentuk
penghayatan yang dilakukan Rasulullah dalam rangka memperbaiki masyarakat masa
itu?
2.
Pemuda muslim harus
menetapkan bidang spesifik untuk menyelesaikan masalah negeri ini. Di masa
kehidupan rasul, terutama dalam peperangan, pembagian bidang spesifik
spesialisi sudah dilakukan, seperti: ada yang khusus bagian memikirkan
strateginya; memimpin pasukan berkuda; memimpin pasukan pemanah; ada pula yang
khusus melakukan komunikasi lobi dan perjanjian; dsb. Pun sama dengan
pembangunan bangsa saat ini. Penetapan ini perlu dilakukan karena
masalah-masalah dalam masyarakat begitu kompleks. Maka tidaklah realistis jika
kita harus menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan semua
masalah yang ada. Sehingga butuh spesifikasi pembelajaran dan keahlian yang
perlu dilakukan kaum muda dalam rangka mengoptimalkan perannya untuk
pembangunan bangsa. Tentunya dalam penetapannya, diperlukan pertimbangan minat,
bakat, kepribadian, serta kondisi finansialnya, agar dalam proses maupun
hasilnya bisa optimal.
3.
Pemuda muslim harus
bergabung dalam organisasi yang memiliki tujuan pembangunan masyarakat. Perlu
disadari bahwa bidang ilmu pengetahuan yang ditetapkan dan ditekuni, tidak akan
mungkin dapat memecahkan masalah dan membangun keseimbangan bangsa secara
makro, melainkan hanya sebagian kecil saja sesuai dengan kedalaman dari bidang
yang ditekuni. Oleh karena itu, suatu konsekuensi logis jika pemuda memerlukan
kerja sama dengan pemuda maupun orang-orang selainnya yang diwadahi dalam
sebuah organisasi yang memiliki tujuan pembangunan masyarakat. Sehingga nantinya
bisa saling bertukar pikir dan saling melengkapi dalam proses pembangunannya
serta bisa saling kontrol dan mengkondisikan agar senantiasa ingat dengan
tujuan pembangunan bangsa yang seimbang.
4.
Pemuda muslim harus
selalu mengarahkan/menyalurkan hobi atau kesenangan sesaat untuk tujuan
pembangunan bangsa. Tidak bisa dipungkiri bahwa masa muda adalah masa dimana
gejolak perasaan sangat kuat untuk ingin diperhatikan ataupun memperhatikan
pemuda yang selainnya. Dan di zaman serba canggih ini, banyak teknologi media
sosial yang bisa digunakan untuk menyalurkannya seperti menulis status di Facebook;
membuat caption di Instagram; membuat vlog di Youtube;
dsb. Maka jika sudah menyadari bahwa pemuda memiliki potensi dan pengaruh besar
dalam membangun bangsa, idealnya apa yang dilakukan meskipun hanya sekedar hobi
atau keinginan sesaat, harus dilakukan dengan sadar dan semata-mata didasari
untuk berperan dalam pembangunan bangsa. Sehingga secara isi konten dan cara
mengemas/menyampaikan pesannya, benar-benar mempertimbangkan nilai-nilai bangsa
dan agama, agar bisa sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa yang seimbang.
Pembuktian
Begitulah
gambaran peranan pemuda muslim dalam membangun bangsa saat ini. Ada sebagian
orang memiliki anggapan sinis bahwa pemudalah yang menjadi biang dari
permasalahan kenakalan maupun pergaulan bebas saat ini. Namun fakta aktual dan
sejarah membuktikan bahwa pemuda juga memiliki potensi dan peran besar dalam
membangun bangsa. Hidup di lingkungan keilmuan; usia yang masih muda; tenaga
yang masih energik; jiwa yang idealis merupakan kekuatan para pemuda untuk
terus berkarya. Bukan pemuda yang
berkarya untuk kekayaan dan kesenangan diri sendiri, bukan pula pemuda yang
berkarya semaunya sendiri. Namun yang dibutuhkan adalah pemuda yang berkarya
demi mewujudkan tatanan masyarakat yang seimbang dan menjadikan bangsa yang
lebih baik.
Daftar Pustaka
Hashinah (al). Sumpah Pemuda: Spirit dan Kontekstualitas dalam kacamata
Cita-cita Akhirat. Buletin Ulul Albab. Tahun III edisi 23, bulan Oktober
2017.
Kaligis, Retor A.W. “Memaknai Ulang Persatuan Bangsa”. Jurnal Politik, No.
13/2/Desember 2012: 86-91.
Kusmiati. 2014. Gamal Albinsaid, Dokter Muda yang Banggakan RI di Pentas
Global. health.liputan6.com. Diakses pada tanggal 13 Oktober 2017.
Nugroho, Bagus Prihantoro. 2015. Asuransi Sampah Inspiratif Gamal
Albinsaid Panen Penghargaan Kelas Dunia. news.detik.com. Diakses pada
tanggal 13 Oktober 2017.
Satries, Wahyu Ishardino. “Peran Pemuda Dalam Pembangunan Masyarakat”. Jurnal
Madani, edisi I/Mei 2009: 88-93.
Surya, Johar Indra. Berjihad Melawan Virus LEMAH (Liberalisme,
Materialisme, dan Hedonisme). Buletin Spiritualisme. Tahun II edisi 38,
bulan Februari 2017.
Warisy (al), Iskandar. Pemikiran Islam Ilmiah Menjawab Tantangan Zaman
Buku-2. Surabaya: Yayasan Al-Kahfi, 2012.
Komentar
Posting Komentar