Nabi dan Penyandang Disabilitas

Hasil gambar untuk nabi muhammad dan ummi maktum
Nabi Muhammad merupakan orang yang diutus oleh Allah untuk memberi peringatan dan petunjuk serta teladan berlandaskan Alquran untuk menuju jalan yang lurus/Surga-Nya. Sedangkan, Penyandang disabilitas merupakan orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental atau jiwa, atau gabungan dari itu. Dalam sejarah umat Islam, antara nabi Muhammad dengan kaum penyandang disabilitas memiliki hubungan yang begitu harmonis. Tidak disangka, keharmonisan antara nabi dengan penyandang disabilitas, tergambarkan dalam hari-hari peringatan penting mereka di tahun ini.
Satu setengah tahun silam, ada dua peringatan penting pada minggu pertama Desember 2017. Pertama, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabi’ul Awal yang jatuh pada 1 Desember. Berselang dua hari, 3 Desember adalah Hari Disabilitas Internasional. Bagi umat Islam, kedekatan dua peringatan itu seharusnya tidak dilewatkan begitu saja tanpa pemaknaan mendalam.  Apalagi, dua hari itu sesungguhnya punya kedekatan yang erat. Terutama bagaimana Nabi dalam bersikap dan berperilaku kepada penyandang disabilitas tanpa perbedaan perlakuan atau sama seperti orang-orang normal lainnya.
Namun, sampai sekarang masih banyak perilaku masyarakat yang membedakan perlakuan terhadap penyandang disabilitas atau disebut bersikap diskriminatif. Bisa kita lihat adanya kasus pengusiran secara tidak terhormat yang dilakukan salah satu maskapai penerbangan kepada penyandang disabilitas. Dwi Ariyani, penyandang disabilitas asal Karanganyar, Jawa Tengah, yang hendak melakukan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten menuju Jenewa, Swiss dipaksa turun dari kabin oleh kru maskapai penerbangan Etihad Airways. (BBC News) Selain itu, Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM Mochammad Choirul Anam, menuturkan, masih banyak masyarakat yang tidak memahami fasilitas-fasilitas khusus disabilitas di fasilitas umum seperti jalur kuning di jalan umum atau di kendaraan transportasi umum. (Kompasnews) Akibatnya, penyandang disabilitas pun mengalami kesulitan ketika hendak menggunakan fasilitas-fasilitas umum seperti orang-orang pada umumnya.
Tak hanya itu, mungkin kita juga seringkali secara sadar maupun tidak sadar, tidak mau berteman atau menjauhi teman-teman yang menyandang disabilitas. Mereka dianggap berbeda secara fisik ataupun mental, aneh, menyusahkan, dan sebagainya. Padahal di sisi Allah, hanya ketaqwaanlah yang menjadi ukuran, seperti firman-Nya dalam surah Al-Hujarat ayat 13.
Fakta-fakta itu menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap penyandang disabilitas masih sering terjadi di masa sekarang ini. Dalam Islam pun, pernah ada sejarah di mana Nabi ditegur oleh Allah karena perbedaan perlakukan terhadap sahabat yang menyandang disabilitas, yaitu Abdullah ibn Ummi Maktum. Hal ini ditandai dengan turunnya surah ‘Abasa kepada Nabi sebagai bentuk teguran tagas dari Allah kepada Nabi.
Lantas, bagaimana sikap nabi Muhammad saat berinteraksi dengan penyandang disabilitas setalah mendapatkan teguran oleh Allah? Dan, bagaimana sikap kita yang seharusnya sebagai umat muslim sekarang dalam memaknai dua hari peringatan yang memiliki kedekatan yang erat dalam sejarah, yaitu peringatan maulid nabi dan hari disabilitas Internasional? Khawatirnya, kita sebagai umat muslim, justru tidak berperilaku dan bersikap sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasul. Oleh karena itu, tulisan ini hendak memberikan jawaban atas hal tersebut. Semoga tulisan ini mampu memperluas wawasan kita tentang sikap nabi Muhammad dan menjadi inspirasi bagi kita untuk meneladani sikap mulia beliau dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas.
Hasil gambar untuk Disabilitas
Nabi Muhammad merupakan suri teladan bagi umat muslim dalam menjalankan perintah-perintah Allah agar nantinya bisa mencapai Surga-Nya. Hal tersebut terjelaskan dalam Alquran di beberapa surah, diantaranya: surah An-Nisa ayat 59 yang berbunyi, “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya.” Kemudian ditegaskan lagi dalam surah An-Nisa ayat 80 bahwa ketika kita mentaati Rasul, kita juga telah mentaati Allah. Selain itu, dalam surah An-Nur ayat 56 menjelaskan, dengan kita mentaati Rasul kita juga akan diberikan Rahmat oleh Allah. Bahkan Allah swt mengancam orang yang tidak mau mentaati Rasul-Nya sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah An-Nur ayat 63 yang artinya, “Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih.”
Ayat-ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa kita selaku umat muslim memiliki keharusan untuk meneladani sikap maupun perilaku Rasul dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga sikap Rasul terhadap penyandang disabilitas. Apalagi, sikap tersebut terabadikan dalam Alquran.
Interaksi Nabi dengan penyandang disabilitas itu tercatat dalam Surah ’Abasa. Surah yang secara bahasa artinya “bermuka masam’’—ekspresi muka seperti orang cemberut—itu  merupakan salah satu di antara sekian teguran langsung Allah kepada Nabi yang terabadikan dalam Alquran. Dan, ternyata firman tersebut diwahyukan saat Nabi berinteraksi dengan penyandang tunanetra—bermata buta—yaitu  sahabat Abdullah Ibnu Ummi Maktum.
Menurut riwayat Imam Turmudzi dan Imam Hakim, Nabi saat itu sedang sibuk berdiskusi dengan pembesar kaum Quraisy dengan harapan agar mereka masuk Islam. Tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum masuk ke ruangan dan bergabung dengan mereka. Sahabat tersebut terus mengitari Nabi, kadang di sebelah kanan dan kadang di sebelah kiri, serta mengulang-ulang pertanyaan kepada Nabi tentang ajaran Islam. Melihat perilaku Ibnu Ummi Maktum yang berputar-putar dan berusaha memotong pembicaraan dengan pembesar Quraisy, Nabi sedikit kesal. Dengan bermuka masam, Nabi memberikan jawaban kepada Ibnu Ummi Maktum bahwa apa yang dilakukan terhadap pembesar Quraisy itu merupakan masalah yang sangat penting (Haekal, 2010: 174). Kemudian, Nabi berpaling dari sahabat tunanetra itu untuk kembali melanjutkan diskusinya dengan pembesar Quraisy. Saat itulah turun wahyu berupa Surah ’Abasa itu, terutama ayat 1-2. ’’Dia bermuka masam dan berpaling, lantaran datang kepadanya orang tunanetra.’’
Teguran “bermuka masam’’ dan “berpaling muka’’ saat berinteraksi dengan penyandang tunanetra ini tentu saja sindiran yang amat tegas. Dalam ilmu bahasa tubuh, bermuka masam seperti ekspresi wajah yang cemberut yang kemudian ditambah dengan berpaling muka, berarti ekspresi penolakan. Apalagi, penyandang tunanetra tidak akan melihat ekspresi wajah lawan bicaranya, dalam hal ini ekspresi nabi Muhammad. Maka wajar apabila nabi mendapatkan teguran yang sangat tegas dari Allah.
Tidak heran, setelah ayat tersebut turun, Nabi segera menghadapkan wajahnya dengan berseri-seri ke Ibnu Ummi Maktum. Di lain kesempatan, saat nabi menyambut kedatangan Ummi Maktum, beliau begitu menghormatinya dengan kelembutan perilakunya mempersilahkan duduk dan menjawab apa saja yang ditanyakan. Kemudian, di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum, dari jauh Nabi sudah menyapanya, ’’Hasyasyin Basysyar, selamat datang wahai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku.’’ Oleh sebab itu, Ibnu Ummi Maktum menjadi salah seorang sahabat yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW.
Pelajaran penting dari peristiwa itu adalah persamaan hak antara penyandang disabilitas maupun orang-orang normal pada umumnya. Persamaan hak itu semakin terlihat jika disandingkan dengan berbagai ayat lain yang menempatkan penyandang disabilitas dengan orang-orang normal. Di antaranya, QS An-Nur (24) ayat 61: “Tidak ada halangan bagi tunanetra (orang buta) , tunadaksa (orang cacat), orang sakit, dan kalian semua....” Begitu juga banyak riwayat hadis Nabi yang menyatakan keutamaan seorang manusia tidak terletak pada kondisi fisik, tetapi lebih kepada kejernihan nurani dan ketakwaan.
Selain soal perlakuan tanpa membeda-bedakan karena berbeda fisik maupun mental atau diskriminasi, pelajaran penting dari interaksi Nabi dengan Ibnu Ummi Maktum itu adalah penyediaan aksesibilitas untuk penyandang disabilitas. Aksesibilitas adalah berbagai kemudahan yang disediakan untuk penyandang disabilitas guna mewujudkan kesamaan kesempatan dengan mereka yang normal (wikipedia). Aksesibilitas bagi penyandang disabilitas itu berangkat dari firman Allah SWT dalam Surah ’Abasa yang sama sekali tidak menyinggung ulah Ibnu Ummi Maktum saat menemui Nabi. Termasuk berkali-kali menanyakan hal yang sama, berputar ke sana kemari untuk mendapat jawaban Nabi, dan lain-lain. Hal Itu artinya penyandang disabilitas memang harus disediakan berbagai kemudahan guna mewujudkan kesamaan kesempatan. Sikap Nabi dalam menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas ini secara mudah tergambar dalam perilaku dan sikapnya kepada Ibnu Ummi Maktum setelah turunnya surah ’Abasa.
                 Sebagai upaya untuk melindungi, menghormati, memajukan, dan memenuhi hak-hak penyandang disabilitas, hukum di Indonesia telah mengaturnya dalam undang-undang. Hal tersebut tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas (UU Penyandang Disabilitas); Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat; serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Konvensi (kesepakatan umum) Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
Selain itu, sikap Rasulullah terhadap penyandang disabilitas, sebagaimana yang terekam dalam sahabat Ibnu Ummi Maktum, adalah melakukan pemberdayaan dengan menumbuhkan semangat dan pengembangan potensinya. Hal ini dibuktikan dengan Ibnu Ummi Maktum mampu tumbuh dan berkembang menjadi penyandang tunanetra yang tangguh dan mandiri. Dalam catatan sejarah, dia menjadi salah seorang yang turut hijrah pertama kali dari Makkah ke Madinah dan diberikan kesempatan mengajarkan Alquran di sana. Dalam riwayat yang lain menyebutkan bahwa Ummi Maktum juga turut serta dalam kemenangan umat muslim melawan persia. Dia menjadi pemegang panji umat muslim dan pembakar semangat dalam perang melawan persia melalui kemerduan suaranya. Tak heran jika seorang ulama tafsir, Buya Hamka, dalam Tafsir al-Azhar menyebut Ibnu Ummi Maktum pernah dua–tiga kali diangkat Rasulullah SAW menjadi wakilnya sebagai imam di Madinah ketika Nabi sedang bepergian ke luar Madinah.
Kepercayaan Nabi kepada Ibnu Ummi Maktum berupa pemberian berbagai peran dalam aktivitas dakwah dan kehidupan sosial di Madinah saat beliau bepergian, menunjukkan bahwa kepedulian umat muslim terhadap penyandang disabilitas bukan dalam bentuk pemberian santunan terhadap mereka. Yang tidak kalah penting adalah kepedulian dalam bentuk pemberdayaan dan pemberian kesempatan yang sama dengan orang-orang pada umumnya dalam mendapatkan kehidupan yang layak. Apalagi, banyak bukti yang menunjukkan bahwa penyandang disabilitas, meski punya keterbatasan di satu aspek, punya kelebihan yang mumpuni di aspek lain. Seperti gadis disabilitas intelektual, Windi dari Pekalongan yang mampu menciptakan desain busana yang begitu indah walau memiliki kterbatasan fisik.
Jika perlakuan dan sikap Nabi demikian luar biasa dengan penyandang disabilitas, bagaimana dengan kita sebagai umatnya? Mudah-mudahan momen tersebut menginspirasi kita dalam meneladani sikap nabi terhadap para penyandang disabilitas, dengan tidak membeda-bedakan mereka dan memberikan kesempatan yang sama dalam kehidupan sehari-hari kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacaan Sholat Dan Artinya

Cerita Sakit Saya

K3LH Dalam TIK