Mengenal Inovasi Teknik Belajar


Di zaman modern saat ini, adanya internet, handphone, bahkan sekarang sudah berevolusi menjadi smartphone, semakin memanjakan kita saja, baik dalam berkomunikasi maupun mencari informasi-informasi yang dibutuhkan. Hal itu terjadi berkat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini merupakan hasil daripada pembelajaran yang dilakukan oleh para pelajar dan para pengajar. Para ilmuwan menuturkan bahwa ilmu pengetahuan atau disebut juga sains merupakan kumpulan pengetahuan manusia tentang gejala-gejala alam ataupun cara mengamati alam yang tersusun secara sistematis, rasional, dan objektif berdasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Sistematis artinya pengetahuan-pengetahuan manusia itu tersusun secara teratur; saling berkaitan; antara satu sama lain merupakan satu kesatuan utuh yang saling bekesinambungan atau tidak bisa dipisahkan. Kalau rasional berarti pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki manusia tersebut adalah hasil dari pertimbangan yang logis atau masuk akal, tanpa dipengaruhi oleh emosi atau perasaan. Dan objektif artinya adalah pengetahuan-pengetahuan tersebut berasal dari keadaan atau kondisi yang sebenarnya atau kenyataan kondisinya, bukan opini/pendapat atau pandangan/penilaian secara pribadi. Tak jarang dalam pembelajaran sains juga diimbangi dengan kemajuan teknologi yang digunakan, karena teknologi juga merupakan hasil dari sains itu sendiri. Sehingga proses belajar untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan yang sistematis, rasional, dan objektif menggunakan teknologi inilah yang membuat zaman semakin maju dan modern seperti saat ini.
Pembelajaran sains ini, pada dasarnya dilakukan agar siswa memiliki pemikiran, sikap, dan kemampuan yang baik, yang suatu saat berguna dalam menghadapi perubahan di lingkungannya. Dalam pembelajaran sains, siswa dituntut untuk senantiasa memikirkan atau menggunakan kognitifnya terhadap pengetahuan-pengetahuan yang didapatkannya untuk dihubungkan dengan permasalahan yang ada, sehingga menghasilkan sebuah pemecahan. Selain itu, dalam melakukan poses pembelajaran sains, siswa juga harus berusaha memikirkan dan merasakan dampak bagi lingkungannya atas pemecahan-pemecahan yang dihasilkan, apakah berdampak baik atau buruk. Inilah yang membuat afektif (kemampuan kepekaan merasa) siswa berkembang. Di samping kognitif dan afektifnya, kemampuan fisik atau psikomotorik siswa juga berkembang, lantaran dalam melakukan pembelajaran sains, selain aktif berfikir, siswa juga aktif bergerak mengamati dan menguji coba hasil pengetahuan yang didapatkan. Selain itu, dengan pembelajaran sains, siswa menjadi lebih kreatif karena siswa dituntut memikirkan dan berkreasi untuk menemukan solusi pemecahan persoalan yang variatif. Dan dengan pembelajaran sains pula, sikap kritis siswa akan selalu diuji, dikarenakan siswa senantiasa dituntut untuk mempertanyakan keadaan yang ada agar terdorong untuk mencari dan menemukan jawabannya atau pemecahannya. Jika dirangkumkan, target pembelajaran sains terhadap siswa tersebut sejalan dengan Abrucasto yang mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran sains di antaranya adalah: (1) mengembangkan kognitif siswa; (2) mengembangkan afektif siswa; (3) mengembangkan psikomotorik siswa; (4) mengembangkan kreativitas siswa; dan (5) melatih siswa berfikir kritis.
Pada kenyataannya, pembelajaran yang kita lakukan selama ini, tidak banyak mengarahkan kepada tujuan pembelajaran sains itu sendiri. Hal itu dikarenakan, dalam pembelajaran sains, masih banyak teknik belajar yang diajarkan kepada kita yang hanya menekankan pada hasil belajar. Teknik belajar yang menekankan pada hasil belajar ini adalah cara belajar yang dalam mengukur keberhasilan belajar hanya melihat dari nilai atau hasil akhirnya saja tanpa melihat bagaimana hasil tersebut dicapai. Hal tersebut bisa kita lihat dari perlakuan bapak atau ibu guru kita yang hanya mengandalkan dan percaya pada siswa pemilik nilai yang tinggi. Kita juga sering saat menerima pelajaran, hanya disuruh untuk diam, duduk, dengar, catat, dan hafalkan. Teman-teman kita juga seringkali saat ujian atau mengerjakan PR (pekerjaan rumah) lebih mengandalkan untuk melihat dan meng-copypaste hasil jawaban dari anak yang dianggap pintar tanpa bertanya bagaimana caranya. Selain itu, beberapa dari kita mungkin juga mengalami ketika bapak atau ibu guru kita membiarkan kita contek-contekan atau bahkan mereka mengajari kita saat ujian, bukan malah menegur, memperingatkan, atau memberikan tindakan tegas kepada kita. Atau yang paling ramai yaitu saat menjelang ujian nasional yang mana pastinya kita atau teman-teman kita bukan malah sibuk belajar, tetapi malah sibuk mengajak teman selainnya; mengumpulkan uang; lalu mencari dan membeli kunci jawaban. Fakta-fakta tersebut menunjukan bahwa pembelajaran yang kita lakukan selama ini masih menekankan pada hasil atau gila hasil tanpa peduli bagaimana caranya, asalkan hasilnya bagus, maka kita bisa lanjut belajar di sekolah.



Teknik belajar seperti inilah yang dapat menurunkan kualitas pendidikan dan intelektual para siswa. Bukan hanya target pembelajaran sains yang tidak tercapai, namun mantalitas dan moralitas siswa juga akan semakin mengalami penurunan. Dengan hanya menekankan pada hasil, maka segala carapun akan selalu diterjang demi mendapatkan hasil tersebut. Segala cara ini seperti: mencontek jawaban teman; mengakali aturan sekolah dalam menggarap tugas; mencari jalan pintas yang cepat untuk mendapatkan jawaban tanpa memperhatikan dampak buruknya; dan bahkan bisa sampai melakukan tindakan kriminalitas seperti pemaksaan dan ancaman terhadap siswa yang dianggap pintar hanya untuk memberikan jawaban kepada siswa yang ‘gila hasil’. Perilaku-perilaku inilah yang pelan-pelan semakin tumbuh dan berkembang menciptakan generasi-generasi bangsa yang pasif, yang hanya mengandalkan orang lain untuk keuntungan dirinya sendiri. Bisa kita lihat, masih maraknya pungli agar bisa dipercepat proses birokrasinya; kebanyakan yang lolos masuk pekerjaan adalah orang yang paling banyak membayar; bahkan di sekolah saja masih ada guru yang syarat mendapatkan nilai darinya adalah dengan membeli buku cetaknya tanpa pernah dibahas sama sekali di kelas. Pada akhirnya kemampuan dan pengalaman siswa diabaikan atau tidak terbentuk. Padahal kemampuan dan pengalaman inilah yang bisa membuat manusia semakin maju dan berkembang.
Dari fakta-fakta tersebut di atas, maka perlu hendaknya kita sebagai pelajar mengubah teknik belajar kita supaya tidak menimbulkan akibat-akibat yang tidak diinginkan kelak. Dalam belajar, kita tidak hanya mementingkan pada hasil, tetapi juga pada bagaimana kita mendapatkan hasil tersebut atau pada proses mendapatkan hasil tersebut. Sehingga nantinya, kemampuan dan pengalaman kita semakin teruji untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam. Teknik belajar yang bukan hanya menekankan pada hasil saja namun juga pada proses ini, dinamakan teknik belajar Keterampilan Proses. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman penulis, teknik belajar keterampilan proses ini merupakan metode atau cara belajar dengan kita terlibat aktif, kreatif, dan kritis dalam memahami dan merasakan proses pemerolehan hasil dari belajar kita atau seseorang. Aktif, kreatif, dan kritis artinya: aktif adalah kita bukan hanya mengagumi hasil dari belajar kita atau seseorang, namun kita mau untuk memikirkan dan menemukan bagaimana tahapan-tahapan atau prosesnya hingga hasil belajarnya seperti itu; kreatif adalah kita berkreasi menciptakan hal-hal yang baru untuk menemukan bagaimana prosesnya hingga hasil belajar kita atau seseorang seperti itu; dan kritis adalah kita mendorong diri kita untuk menemukan prosesnya dengan selalu menanyakan atau berdialektika tentang mengapa dan bagaimana hasil belajar kita atau seseorang bisa seperti itu. Dengan pengertian tersebut, penulis sependapat dengan banyak pakar bahwa teknik belajar keterampilan proses ini merupakan teknik belajar yang paling sesuai dengan pembelajaran para siswa, guru, dan masyarakat pada umumnya, termasuk penulis sendiri, dalam memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghadapi persoalan-persoalan perubahan keadaan lingkungan yang semakin maju dan modern ini.

Seorang pakar dalam dunia pendidikan, Moh. Uzer Usman, dan depdikbud menyatakan bahwa terdapat tujuh unsur atau komponen dalam teknik belajar keterampilan proses.
  1. Pertama adalah mengamati, yakni dalam pembelajaran untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan siswa, siswa perlu mengamati keadaan di sekelilinya melalui alat indra dan alat perasanya (perasaan) seperti: melihat, mendengar, meraba dan merasa dengan kulit, mencicipi atau mengecap, dan merasakan dengan perasaan ketika suka ataupun duka. 
  2. Kemudian Yang kedua adalah menggolongkan (mengklasifikasi), yaitu agar pengetahuan yang didapatkan mudah dicerna dan dipahami, siswa perlu menggolongkan pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan berdasarkan jenisnya, semisal: pengetahuan bentuk; pengetahuan warna; pengetahuan konsep tertentu; dsb. Lalu, 
  3. Yang ketiga adalah menafsirkan/memaknai (menginterpretasikan), yaitu supaya siswa bisa menerapkan pengetahuan yang didapatkannya, maka setelah dikelompokkan perlu dimaknai atau dicari hubungan antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan yang selainnya, sehinga siswa dapat menemukan pola dan menarik kesimpulan fungsi dari pengetahuan-pengetahuannya. Selanjutnya, 
  4. Yang keempat adalah meramalkan (memprediksi), yaitu siswa mencoba menggunakan hasil kesimpulan pada tahap pemaknaan untuk memprediksi sesuatu hal yang akan terjadi di waktu mendatang dengan kecenderungan pola pengetahuan yang sama. 
  5. Yang kelima adalah menerapkan, yaitu siswa menggunakan hasil belajarnya yang berupa kesimpulan, informasi, konsep, ataupun keterampilan untuk menyelesaikan sebuah persoalan tertentu. Kemudian, 
  6. Yang keenam adalah merencanakan penelitian, yaitu siswa mencoba mencari masalah yang baru dan menyelesaikannya dengan konsep atau keterampilan yang sudah ia atau orang lain temukan. Mulai dari menentukan masalah atau objek yang diteliti; menetapkan tujuan dan ruang lingkup atau batasan penelitian; menentukan cara analisis dan jumlah sumber daya yang dibutuhkan; menetapkan sumber data atau informasi; melakukan proses pengumpulan dan pengolahan data; serta menganalisis data dan menyimpulkan hasilnya. 
  7. Terakhir adalah mengkomunikasikan, yaitu agar hasil dari penelitian atau hasil belajar kita bisa bermanfaat bagi orang lain, maka perlu dikomunikasikan melalui lisan, tulisan, gambar, video, tindakan, baik itu dengan cara bercerita, berdiskusi, mem-posting di internet, ataupun melaporkan kepada teman, orang atau pihak tertentu.

Teknik belajar keterampilan proses ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan teknik belajar yang selama ini kita lakukan. Dikarenakan dalam proses pembelajarannya kita mencari langsung bagaimana dan mengapa hasil belajar itu tercipta, maka kita juga terlibat langsung dalam proses mencapai hasil belajarnya. Dengan terlibat langsung dalam prosesnya, kita akan lebih memahami terhadap materi pelajaran yang sedang kita pelajari. Di samping itu, kita juga akan menemukan cara kita sendiri untuk mencapai hasil belajar kita, atau dengan kata lain kita menemukan sendiri konsep-konsep pelajaran yang kita pelajari tanpa mengandalkan orang lain. Bahkan kita bisa menemukan konsep-konsep baru yang tidak pernah ada sebelumnya untuk menjawab persoalan atau mencapai hasil belajar. Dalam pembelajaran di sekolah, kita pun tidak lagi pasif yaitu hanya duduk, diam, dengar, catat, dan hafalkan. Namun, kita akan lebih aktif dalam proses pembelajarannya, seperti: menanyakan prosesnya; mengapa dan bagaimana hal itu terjadi; meng-crosschek-kan pemahaman atas pengetahuan dari hasil mengamati ataupun mengalami langsung; atau membantu memahamkan teman-teman yang lain yang masih belum paham. Dan lagi, kita juga mendapatkan kesempatan untuk bisa belajar seperti seoarang ilmuwan belajar yaitu menggunakan metode ilmiah (seperti urutan komponen teknik belajar keterampilan proses di paragraf sebelumnya).
Perlu diingat, bahwa teknik belajar keterampilan proses ini tidak lagi membuat kita hanya mementingkan hasil, namun kita akan terbiasa dengan yang namannya “berproses”. Pepatah berkata, “Proses tidak akan mengkhianati hasil.” Dengan berproses, kita sebenarnya sedang merencanakan keberhasilan kita. Semakin baik kita berproses, semakin baik pula keberhasilan yang akan didapatkan. Kita bisa melihat orang yang sopan dalam berbuat, santun dalam berucap, hasilnya dia akan disegani oleh lingkungan sekitarnya. Namun orang yang mendapatkan hasil yang baik belum tentu orang tersebut berproses dengan baik. Kita bisa melihat para koruptor yang menganggap bahwa hasilnya baik untuk kesejahteraan keluarganya, namun cara berprosesnya, mereka menyengsarakan rakyat dan negaranya. Kemandirian diri juga akan terbentuk dengan sendirinya beriringan dengan proses yang dilakukan dalam teknik belajar keterampilan proses ini. Kemandirian diri tersebut adalah: kemandirian menemukan jawaban atas persoalan yang dipelajari; kemandirian mencapai hasil bejalar sendiri; dan kemandirian memperoleh ilmu pengetahuan tanpa selalu menggantungkan diri pada orang yang mengajari.
Selain mental berproses dan mandiri yang akan didapatkan dari teknik belajar keterampilan proses ini, kita juga akan memiliki kebiasaan atau reflek untuk selalu “berpijak pada realitas”. Mudah tertipu atau dibohongi oleh teman atau orang lain, terjadi karena seringkali kita berpijak pada opini/pendapat atau penilaian teman kita atau orang lain. Lain halnya jika kita berpijak pada realitas. Berpijak pada realitas artinya kita melihat dari kondisi atau keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh penilaian atau pendapat orang. Dengan berpijak pada realitas, kita bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah. Dengan berpijak pada realitas pula, kita akan lebih mudah memahami konsep materi pelajaran yang sedang kita pelajari, lantaran konsep itu sendiri diambil dari realitas yang ada. Dan dengan berpijak pada realitas, kita akan terampil dalam menemukan pemecahan yang tepat atas permasalahan atau persoalan yang sedang kita hadapi atau pelajari. Karena dengan berpijak pada realitas, pemecahan yang kita ambil akan selalu menyesuaikan dengan kenyataan situasi atau kondisi yang ada dari permasalah tersebut. Mentalitas senantiasa berproses, mandiri, dan berpijak pada realitas inilah yang akan kita peroleh jika kita menerapkan teknik belajar keterampilan proses.



Daftar Pustaka
Hikmawati. “Penggunaan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Pesawat Sederhana Siswa di Kelas V SDN 51 Lambari”. Jurnal Publikasi Pendidikan,
Volume 11, No.1 (Februari-Mei 2012): 44-53.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Tsabit Bin Ibrahim

Cerita Sakit Saya

Salawat Dedaunan